Kapan Harus Melakukan Swab Antigen atau PCR untuk Tes Covid?

Penularan virus Corona di Indonesia semakin sulit dihentikan karena muncul varian baru yang diklaim lebih menular dari pendahulunya. IGD dan kapasitas tempat tidur di rumah sakit hampir penuh sehingga pasien COVID-19 yang bisa dirawat di rumah sakit hanya mereka yang memiliki kriteria tertentu.

Parahnya, di tengah pandemi ada corona yang dikenal dengan OTG (orang tanpa gejala) yang berpotensi menjadi pembawa virus dan menginfeksi banyak orang.

Timbul pertanyaan, kapan sebenarnya kita harus melakukan swab test antigen atau PCR untuk mengetahui apakah terpapar virus corona atau tidak?

Swab antigen sendiri merupakan metode untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh dengan mengambil sampel antigen, yaitu protein yang dikeluarkan oleh virus seperti SARS-CoV-2. Antigen ini dapat dideteksi ketika ada infeksi yang terjadi di dalam tubuh seseorang.

Antigen swab dilakukan sebagai penapisan awal, yang kemudian akan diuji lebih lanjut sebagai uji baku emas yaitu reverse-transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR). Ada beberapa kriteria siapa saja yang harus melakukan tes swab antigen, berikut daftarnya.

Kontak dekat dengan pasien COVID-19
Ketika saudara, teman, tetangga, atau rekan kerja dinyatakan positif corona, dan selama 14 hari terakhir Anda merasa pernah melakukan kontak dekat dengan mereka, maka tes swab antigen harus dilakukan.
Mereka adalah gejala COVID-19

Jika gejala covid mulai muncul antara lain demam, batuk, sesak napas, dan anosmia, segera lakukan swab test antigen.
Yang akan pulang pergi dari luar kota
Saat keluar kota, swab antigen harus dilakukan minimal satu hari sebelum perjalanan. Dan sebaliknya.

Kapan melakukan tes PCR?
Tes PCR akan dilakukan jika hasil swab test positif antigen corona. Pemeriksaan menggunakan metode PCR membutuhkan waktu beberapa jam hingga 3-5 hari untuk menunjukkan hasil. Hal ini tergantung pada kapasitas laboratorium yang digunakan untuk memeriksa sampel.

Aturan baru jika positif corona
Ada kebijakan baru yang dikeluarkan Menteri Kesehatan Budi Sadikin bagi mereka yang dinyatakan positif corona. Ini akan mengatur pasien COVID 19 yang perlu dirawat di rumah sakit dan siapa yang tidak. Hal itu dilakukan karena beberapa fasilitas rumah sakit hampir penuh pasca lonjakan kasus corona di Indonesia.

Aturannya didasarkan pada tingkat keparahan gejala dan risiko pasien. “Isolasi dan tidak memiliki gejala, memiliki komorbiditas saturasi di bawah 95 dan sudah ramai kita bawa ke rumah sakit. Itu bukan, lebih baik isolasi mandiri di rumah atau isolasi terpusat.” kata Budi dalam jumpa pers virtual, Senin (21/6).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*